Senin, 01 Juli 2013

Proses Keperatawan Spiritual



Pada intinya keperawatan adalah komitmen tentang mengasihi (caring). Merawat seseorang adalah suatu proses interaktif yang bersifat individual melalui proses tersebut individu menolong satu sama lain dan menjadi teraktualisasi (Carl,et al,1991). Suatu elemen perawatan  kesehatan berkualitas adalah untuk menunjukkan kasih sayang pada klien sehingga terbentuk hubungan saling percaya. Rasa saling percaya diperkuat ketika pemberi perawatan menghargai dan mendukung kesejahteraan spiritiual klien.
Penerapan proses keperawatan dari perspektif kebutuhan spiritual klien tidak sederhana. Hal ini sangat jauh dari sekedar mengkaji praktik dan ritual keagamaan klien. Memahami spiritualitas klien kemudian secara tepat mengidentifikasi tingkat dukungan dan sumber yang diperlukan, membutuhkan perspektif baru yang lebih luas. Perawat harus  belajar untuk memahami aspek positif dari spiritualiatas klien ketimbang berfikir bahwa pada saat menderita suatu penyakit spiritualitas selalu mengalami ancaman. Mendukung dan mendukung dan mengenali klien akan tersalur sepanjang pemberian asuhan keperawatan yang efektif dari individual.

1.      Pengkajian
Kemampuan perawat untuk mendapat gambar tentang dimensi spiritual klien yang jelas mungkin dibatasi oleh lingkungan dimana orang tesebut mempraktekkan spiriualnya. Hal ini benar jika perawat mempunyai kontak terbatas dengan klien dan gagal membina hubungan. Tetapi ketika terbina hubungan saling percaya, perawat dan klien sampai pada titik pembelajaran bersama dan terjadi asuhan keperawatan.
Farran, et al, (1989) telah mengembangkan model untuk pengkajian spiritual yang dapat memberikan gambar nyata dari dimensi spiritual klien. Model tersebut dirancang untuk menunjukkan aspek spiritualitas yan hampir pasti selalu dipengaruhi oleh pengalaman, kejadian, dan pertanyaan dalam kejadian penyakit dan perawatan di rumah sakit. Pengkajian dapat menunjukkan kesempatan yang dimiliki perawat dalam mendukung atau menguatkan spiritualitas klien. Pengkajian itu sendiri, dapat menjadi terapeutik karen pengkajian itu sendiri menunjukkan tingkat perawatan dan dukungan yang diberikan.
a.       Keyakinan dan Makna
Penting untuk mempelajari tentang filosofi hidup seseorang perspektif spirirualitasnya, dan apakah pandangan spiritualitasnya sebagai bagian dari kehidupannya secara keseluruhan. Dengan menanyakan kepada klien tentang filosofi hidupnya dan membantu untuk mengkaji apa yang memberi makna hidup seseorang. Suatu pemahaman tentang keyakinan dan makna yang mencerminkan
Sumber spiritual seseorang memudahkan dalam mengatasi kejadian traumatik atau yang menyulitkan.
b.      Autoritas dan Pembimbing
Setiap orang mempunyai suatu sumber autoritas dan pedoman dalam hidupnya Autoritas tersebut dapat berupa yang maha kuasa, pemuka agama tertentu, keluarga atau teman, diri sendiri atau kombinasi dari sumber tersebut. Perawat dalam mengkaji sumber autoritas dan pedoman seseorang dengan menanyakan klien “ Apa yang memberi Anda kekuatan dari dalam?”. Juga penting artinya mengetahui apa ada sumber keagamaan yang berkonflik dengan pengobatan medis. Hal ini akan sangat mempegaruhi pilihan yang diberikan perawat dan pemberi perawatan. Kesehatan lainnya kepada klien.
c.       Pengalaman dan Emosi
Perawat menggali emosi atau suasana hati seperti kebahagian damai, harapan rasa bersalah, atau rasa malu yang berkaitan dengan pengalaman keagamaan. Informasi tersebut dapat menunjukkan makna spiritualitas yang dianut apakah perasaan tersebut menyatu ke dalam atau ditolak oleh keyakinan seseorang, maka akses ke pengalaman seperti ini dapat menjadi alat dalam penyembuhan.
d.      Persahabatan dan Komunitas
Persahabatan adalah hubungan yang miliki oleh seorang individu dengan orang lain. Persahabatan ini mencakup komunitas yang lebih luas mempunyai kepercayaasama antara klien dan jaringan pendukung mereka. Komunitas yang mempunyai kepercayaan yang sama dapat menciptakan ikatan yang kuat. Ketika klien mengetahui bahwa orang lain dengan kepercayaan yang serupa menunjukkan kepedulian, maka mereka menjadi sumber harapan.
e.       Ritual dan Ibadat
Kriteria paling umum yang dikaji perawat untuk spiritualitas adalah kebiasaan dan ritual keagamaan. Perawat meneliti apakah ritual dan ibadat yang dianut klien telah terganggu akibat penyakit atau perawatan di rumah sakit. Karena suatu ritual dapat memberi klien struktur dan hubungan selama masa sulit.
f.       Dorongan dan Pertumbuhan
Farran et al, (1998) merekomendasikan pengkajian tentang sumber yang memberi nuansa dorongan (harapan) pada masa lalu bagi klien. Harapan telah diidentifikasikan sebagai suatu komponen esensial dari kesehatan oleh klien AIDS atau cancer (Fryback,1992). Hartapan memotivasi seseorang untuk meraih sesuatu. Bahakan dalam menghadapi pasien terminal, harapan pentig bagi seseorang untuk menghadapi tantangan dalam hidup.
g.      Panggilan dan Konsekuensi
Individu megekspresikan spiritualitas  mereka pada rutinitas sehari-hari pekrjaan, hubungan dan bidang lainnya. Hal tersebut dapat menjadi panggilan dalam hidup dan menjadi bagian dari identitas mereka. Perawat mencoba untuk menentukan apakah penyakit atau perawatan dirumah sakit telah mengubah kemampuan seseorang untuk mengekspresikan spiritualitas mereka. Perawat juga harus mengkaji apakah, dalam menghadapi penyakit, klien kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya (Fryback,1992).

2.      Diagnosa Keperawatan
Ketika meninjau pengkajian spiritual dan mengintegarasikan informasi tersebut kedalam diagnosa keperawatan yang sesuai, perawat harus mempertimbangkan status kesehatan klien terakhir dari perspektif holistik, dengan spiritualitas sebagai prinsip kesatuan.
Dengan diagnosa keperawatan yang secara relatif baru, yaitu kesejahteraan spiritual, potensial untuk ditingkatkan, didasarkan pada batasan karakteristik yang menunjukkan pola kesejahteraan dan keterhubungan yang berasal dari kekuatan dari dala (Kim, et al, 1995). Jika pengkajian keperawatan menunjukkan bahwa klien mempunyai harapan dan keyakinan dari dalam, percaya terhadap kekuatan yang lebih tinggi, mempunyai ujuan dan makna dalam hidup, dan mengekspresikan suatu keharmonisan dengan diri dan orang lain, maka kesejahteraan spiritual adalah diagnosa yang mungkin.
Ketika perawat mengidentifikasi diagnosa yang sesuai dengan klien, penting artinya untuk mengenali makna yang diberikan oleh spiritualitas terhadap semua tipe maslah kesehatan. Hampir semua diagnosa keperawatan mempunyai implikasi terhadap spiritualitas klien.
Pada perawaan spiritual, kepentingan aspirasi spiritual perawat sendiri, inspirasi, dan persepsi tidak saling tumpang tindih. Perawat menghidari memaksakan keyakinan pribadinya pada klien. Setiap diagnosa harus mempunyai faktor yang brhubungan dengan akurat sehingga intervensi yang dihasilkan dapat bermakna dan langsung.

3.      Perencanaan (Intervensi)
Ketika perawat dan klien mengidentifikasi bahwa klien mempunyai kebutuhan spiritual, penting artinya bagi perawat dan klien untuk berkolaborasi dengan erat saat membuat rencana perawatan. Keharuan dan perasaan kasih harus dengan jelas dikomunikasikan antara perawat dan klien. Hal ini dapat dimulai dengan pengkajian yang dirancang dengan baik, tetapi hubungan perawat-klien harus berlanjut didasarkan pada rasa kasih sayang dan saling percaya agar intervensi menjadi efektif.
Dalam menetapkan rencana perawatan, terdapat tiga tujuan utuk pemberian perawatan spiritual (Munley, 1983) :
a.       Klien merasakan perasaan percaya pada pemberi perawatan.
b.      Klien mampu terikat dengan anggota sistem pendukung.
c.       Pencarian pribadi klien tentang makna (hidup) meningkat.

4.      Implementasi
Jika klien mengalami distess spiritual atau mempunyai masalah kesehatan yang menyebabkan keputusasaan, maka akan timbul perasaan kesepian. Klien akan merasa terisolasi dari orang yang biasanya memberikan dukungan. Apapun keragaman intervensi yang mungkin dipilih oleh perawat untuk klien, hubungan mengasihi dan saling memahami pentng. Baik klien dan perawat harus merasa bebas untuk merelakan dan menemukan bersama makna penyakit yang dialami klien dan dampaknya pada makna dan tujuan hidup klien. Pencapaian tingkat pemahaman ini bersama klien memampukan perawat memberikan perawatan dengan cara yang sensitif, kreatif, dan sesuai.
a.       Memetapkan Kehadiran
Klien telah melaporkan bahwa kehadiran perawat dan aktvitas pemberi perawatan menunjang adanya perasaan sejahtera dan memberikan harapan untuk pemulihan (Clark et al, 1991). Perilaku pemberian perawatan spesifik yang menunjukkan kehadiran perawat meliputi memberi perhatian, menjawab pertanyaan, dan mempunyai sikap positif dan memberikan dorongan (tetapi realistis). Kemampuan untuk menciptakan kehadiran adalah suatu kiat keperawatan. Kiat ini bukan hanya melakukan prosedur dengan cara yang sangat cepat atau berbagi informasi teknis dengan klien yang mungkin tidak bermakna.
b.      Mendukung Hubungan yang Menyembuhkan
Benner (1984) mendefinisikan tiga langkah yang nyata terbukti ketika hubungan yang menyembuhkan terbina antara perawat dan klien :
a)      Mengerahkan harapan bagi perawat, demikian juga halnya bagi klien.
b)      Menemukan interpretasi yang dapat diterima atau memahami tentang penyakit, nyeri, ketakutan, ansietas, atau emosi yang menegangkan.
c)      Membantu klien menggunakan dukungan sosial, emosional, atau spiritual.
Inti dari hubungan yang menyembuhkan adalah mengerahkan harapan klien. Harapan adalah motivator untuk merangkul individu dengan stategi yang dibutuhkan untuk menghadapi segala macam tantangan dalam hidup. Perawat dapat membantu klien menemukan hal-hal yang dapat dijadikan sebagai harapan.
c.       Sistem Dukungan
Sistem pendukung berfungsi sebagai hubungan manusia yang menghubungkan klien, perawat, dan gaya hidup klien sebelum terjadi penyakit. Bagian dari lingkungan pemberi perawatan klien adalah kehadiran teratur dari keluarga dan teman yang dipandang oleh klien sebagai pendukung. Perawat merencanakan perawatan bersama klien dan jaringan pendukung klien untuk meningkatkan ikatan interpersonal yang sangat penting untuk penyembuhan. Sistem pendukung sering memberi sumber kepercayaan yang memperbarui jati diri spiritual klien. Keluarga dan teman mungkin juga menjadi sumber penting dalam melakukan ritual kebiasaan keagamaan yang ianut klien.
d.      Berdoa
Berdoa telah ditemukan sebagai sumber yang efektif bagi seseorang untuk mengatasi myeri, stres, dan distres. Yang juga sudah diteliti adalah bahwa berdoa dapat mencakup perubahan kardiovaskular dan relaksasi otot. Sering kali berdoa menyebabkan seseorang merasakan perbaikan suasana hati dan merasakan kedamaian dan ketenangan. Selama pengkajian perawat mengetahui apakah berdoa merupakan ritual penting bagi klien dan kemudian menentukan apakah intervesi dibutuhkan sehingga berdoa dapat dilakukan. Intervensi dapat mencakup membentuk privasi, mendorong kunjungan dari rohaniawan atau berdoa bersama klien.
e.       Terapi Diet
Makanan dan nutrisi adalah aspek penting dari asuhan keperawatan. Makanan juga komponen penting dari kepatuhan keagamaan. Seperti halnya kultur atau agama tertentu, makanan dan ritual sekitar persiapan dan pengkajian makanan dapat menjadi bagian penting dari spiritualitas sseorang.
f.       Mendukung Ritual
Bagi banyak klien, kemampuan untuk menelaah ritual keagamaan adalah suatu sumber koping yang penting. Perawat merencanakan perawatan pribadi, terapi, atau pemeriksaan untuk memungkinkan pelayanan dari tempat ibadah, pembacaan keagamaan, atau kunjungan spiritual.

5.      Evaluasi
Pencapian kesehatan spiritual dianggap sebagai tujuan sepanjang hidup. Klien akan mengalami pentingnya mengklarifikasi nilai, membentuk kembali filosofi, dan menjalani pengalaman yang membantu membentuk tujuan seseorang dalam kehidupan. Ketika merawat klien, perawat mengevaluasi apakah intervensi keperawatan membantu menguatkan spiritualitas klien. Perawat membandingkan tingkat spiritual klien. Perawat membandingkan tingkat spiritual klien dengan perilaku dan kebutuhan yang tercatat dalam pengkajian keperawatan.
Asuhan keperawatan holistik mengintegrasikan intervensi yang mendukung spiriualitas klien. Untuk memberikan perawatan spiritual, perawat harus memahami dimensi kesehatan spiritual dan mampu mengenali kesehatan spiritual seseorang. Sama artinya, setiap perawat harus mampu untuk memahami spiritualitas mereka sendiri sehingga ia dapat merasakan dan memberdayakan diri untuk memberi dukungan terhadap kebutuhan spiritual klien.
     Pengembangan hubungan perawat-klien yang mengasihi adalah inti dari pemberian keperawatan spiritual. Tercapainya kehadiran dan keterbukaan bersama klien memberdayakan perawat untuk memberikan perawatan dalam cara yang sensitif, kreatif dan sesuai. Perawat juga mempelajari untuk mengarahkan harapan klien, sambil membentuk hubungan yang menyembuhkan. Hal ini membantu klien berorientasi pada masa depan dan mampu berupaya kearah penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA


Potter, Patricia A. dan Anne Griffin Perry.2005.Fundamental Keperawatan.Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdl-noorfaizah-5292-3-babii.pdf

Perkembangan Aspek Spiritual Keperawatan

Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya (Carson, 2002)
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia (Carson, 2002)
a)      Bayi dan Toodler
Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Hamid (2000) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi. Oleh karena itu, perawat dapat menjalin kerjasama dengan orang tua bayi tersebut untuk membantu pembentukan nilai-nilai spiritual pada bayi.
Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalamanpengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual (Hamid, 2000).
b)      Pra Sekolah
Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masihkesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya (Hamid, 2000).
c)      Usia Sekolah
Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak. Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka (Hamid, 2000).
d)     Remaja (12-18 tahun)
Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja (Hamid, 2000).
e)      Dewasa muda (18-25 tahun)
Pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa (Hamid, 2000).
f)       Dewasa pertengahan (25-38 tahun)
Dewasa pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual (Hamid, 2000).
g)      Dewasa akhir (38-65 tahun)
Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat (Hamid, 2000).
h)      Lanjut usia (65 tahun sampai kematian)
Pada tahap perkembangan ini, pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri (Hamid, 2000).
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda (Hamid, 2000).

Askep abortus



KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Askep  ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
            Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah Askep ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
            Penulis menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam makalah Askep ini, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

                                                                                                      Semarang, 25 Juni 2013


                                                                                                               Penyusun















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. 1
DAFTAR ISI ................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ................................................................................................... 3
B.     Tujuan ................................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian .......................................................................................................... 4
B.     Etiologi .............................................................................................................. 4
C.     Klasifikasi .......................................................................................................... 6
D.    Patofisiologi ....................................................................................................... 7
E.     Tanda dan Gejala ............................................................................................... 7
F.      Manifestasi Klinis .............................................................................................. 8
G.    Pemeriksaan Penunjang ................................................................................. .... 8
H.    Penatalaksanaan ............................................................................................ .... 9
I.       Komplikasi .................................................................................................... .... 10
J.       Faktor Risiko / Predisposisi Yang (Diduga) Berhubungan Dengan Terjadinya Abortus                   11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABORTUS
A.    Pengkajian ..................................................................................................... .... 12
B.     Diagnosa ....................................................................................................... .... 15
C.     Intervensi ...................................................................................................... .... 15
D.    Evaluasi ......................................................................................................... .... 20
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan ................................................................................................... .... 21
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. .... 22






BAB I  
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus” berarti mengeluarkan hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Menurut buku ilmu kebidanan, istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (Wiknjosastro, 1991;h.302). Selain itu aborsi dapat juga didefinisikan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum fetus mencapai waktunya dan biasanya terjadi sebelum kehamilan mencapai umur 20-24 minggu.   
Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan sebaik-baiknya, perlu dilakukan penggajian dan pemberian intervensi  yang tepat. Kita juga mengetahui bahwa peran perawat yang paling utama adalah melakukan promosi dan pencegahan terjadinya gangguan kesehatan baik l, sehingga dalam hal ini perlu diberikan pendidikan kesehatan yang efektif guna meningkatkan kualitas kesehatannya.

B.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui dan memahami tentang pengkajian pada klien dengan abortus
2.      Untuk mengetahui dan memahami tentang  diagnose yang muncul pada klien dengan abortus
3.      Untuk mengetahui dan memahami intervensai dan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan abortus

.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN
Abotus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu hidup di luar rahim (belum viable), dengan kriteria usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan janin kurang 500 gram.
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones, 2002).                                                                  
Abor-tus adalah berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar (FK UNPAD, Obstetri Patologi, Bandung: bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram  (Mansjoer,Arif,dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga, jilid I, hlm: 260 FKUI Jakarta: Media Aesculapius).
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 28 minggu atau berat janin kurang dari 1.000 gram. ( Junaidi,Purnawan 1982 Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga, jilid I, h1m:260 FKUI Jakarta: Media. Aesculapius).

B.     ETIOLOGI
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu :
1.      Faktor Pertumbuhan  Hasil Konsepsi.
Kelainan pertumbuahan hasil konsepsi dapat menimbulkan  kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan, gangguan pertumbuhan  hasil kosepsi dapat terjadi karena:
a.         Faktor kromosom.
Gangguan terjadi sejak sernula pertemuan kromosom, terinasuk kromosorn seks.
b.        Faktor lingkungan endometritum.
1)      Endometrium belurn siap untuk menerima implasi hasil konsepsi.
2)      Gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan.
c.         Pengaruh luar
1)      Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi.
2)      Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.
2.       Kelainan Pada Plasenta
a.       Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat berfungsi.
b.      Gangguan pembuluh darah palsenta, diantaranya pada diabetes melitus.
c.       Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga menimbulkan keguguran.
3.      Penyakit  Ibu
     Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta:
a.       Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis.
b.      Anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju sirkulasi retroplasenter.
c.       Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit diabetes melitus.
4.      Kelainan Yang Terdapat Dalam  Rahim
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkatus, uterus septus, retrofleksi uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (konisasi, amputasi serviks), robekan serviks postpartum.
a.       Penyebab Dari Segi Maternal
Penyebab secara umum:
1)      Infeksi Akut
a)      virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis.
b)      Infeksibakteri, misalnya streptokokus.
c)      Parasit, misalnya malaria.
2)      Infeksi Kronis
a)      Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.
b)      Tuberkulosis paru aktif.
3)      Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.
4)      Penyakit kronis, misalnya :
a)      hipertensi
b)      nephritis
c)      diabetes
d)     anemia berat
e)      penyakit jantung
f)       toxemia gravidarum
5)      Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll.
6)      Trauma fisik.
b.      Penyebab Yang Bersifat Lokal:
a.       Fibroid, inkompetensia serviks.
c.       Retroversikronis.
5.      Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus.
6.      Penyebab Dari Segi Janin
a.       Kematian janin akibat kelainan bawaan.
b.      Mola hidatidosa.
c.       Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi.

C.    KLASIFIKASI
1.      Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu:
a.       Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasiserviks.
b.      Abortus insipiens : Peristiwa perdarahanuterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.
c.       Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
d.      Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
2.      Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat)
Yaitu menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badan bayi belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.



D.    PATOFISIOLOGI
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus.Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

E.     TANDA DAN GEJALA
1.      Tanda dan gejala pada abortus Imminen :
a.       Terdapat keterlambatan datang bulan
b.      Terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules
c.       Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan terjadi kontraksi otot rahim
d.      Hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, dan kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim.
e.       Hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif
2.      Tanda dan gejala pada abortus Insipien :
a.       Perdarahan lebih banyak
b.      Perut mules atau sakit lebih hebat
c.       Pada pemariksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan jaringan atau hasil konsepsi dapat diraba
3.      Tanda dan gejala abortus Inkomplit :
a.       Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.
b.      Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat
c.       Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi
d.      Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma)
4.      Tanda dan gejala abortus Kompletus :
a.       Uterus telah mengecil
b.      pendarahan sedikit
c.       Canalis servikalis telah tertutup
5.      Tanda dan gejala Missed Abortion :
a.       Rahim tidak membesar, malahan  mengecil karena absorbsi air ketuban dan maserasi janin
b.      Payudara mengecil kembali

F.     MANIFESTASI KLINIS
1.      Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu.
2.      Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun,   tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat
3.      Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi
4.      Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat  kontraksi uterus
5.      Pemeriksaan ginekologi :
a.       Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva
b.      Inspekulo : perdarahan dari cavum  uteri, osteum  uteri terbuka atau  sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
c.       Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Test HCG Urine Indikator kehamilan Positif. Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus
2.      Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3.      Kadar Hemoglobin Status Hemodinamika Penurunan (< 10 mg%) dan Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.
4.      Kadar Sdp Resiko Infeksi Meningkat(>10.000 U/dl)
5.      Kultur Kuman spesifik ditemukan kuman.

H.    PENATALAKSANAAN
1.      Abortus Imminen
a.       Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan merangsang mekanik berkurang.
b.      Tes kehamilan dapat dilakukan.
c.       Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
d.      Bersihkan vulva minimalkan 2 kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi.
e.       Berikan obat penenang biasanya fenobarbital 3 x 30 mg.
2.      Abotus Insipien
a.       Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang disertai perdarahan dengan pengosongan uterus memakai kuret vakUun atau cunam abortus.
b.      Pada kehamilan lebih dari 12 minggu berikan infuse oksitoksin 10 iu dalam dekstrose 5% 500 ml dimulai 8 tetes permenit.
c.       Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadi abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin.
d.      Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual.
3.      Abortus Inkompletus
a.       Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infuse cairan NaCI fisiologi atau RL dan selekas mungkin di tranfusi darah.
b.      Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajarn lalu suntikkan ergometrin 0,2 mg intramuscular.
c.       Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual.
d.      Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
4.      Abortus Kompletus
a.       Bila kondisi pasien baik berikan ergonometrin 3 x 1 tablet selama 3 sampai 5 hari.
b.      Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau tranfuse darah.
c.       Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
d.      Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
5.      Abortus Infeksiosus Atau Septik
a.       Abortus septik harus dirujuk ke Rumah Sakit
b.      Penangulangan infeksi
c.       Tingkatkan asupan cairan.
d.      Bila perdarahan banyak maka lakukan tranfuse darah.
e.       Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau lebih cepat lagi bila terjadi perdarahan, sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus.
6.      Habitual Abortus
a.       Penderita dianjurkan untuk banyak istirahat.
b.      Makanan harus adekuat mengenai protein, hidrat arang, vitamin mineral. Pembatasan obat-obatan yang diketahui mempuyai pengaruh jelek kepada janin.
c.       Memfasilitasi klien untuk dapat menciptakan kondisi emosional yang tenang, dan menghilangkan rasa cemas.
7.      Missed Abortion.
a.       Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam.
b.      Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar sesaat sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi.
c.       Bila kehamilan kurang 12 rninggu lakukan pembukaan serviks dengan gagang laminaria selama 12 jam lalu lakukan dilatasi serviks dengan dilatator hegar.
d.      Bila kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan dietilstilbestol 3 x 5 mg lain infuse oksitoksin 10 iu dalam dekstrose 5 % sebanvak 500 ml mulai 20 tetes per menit dan naikan dosis saznpai ada kontraksi uterus. Bila fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20 % dalam kavum uteri melalui dinding perut

I.       KOMPLIKASI
1.      Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi denga pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlInfeksiu pemberian transpusi darah, Kematian karena perdarahan dapatb terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2.      Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini pendrita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi.
3.      Infeksi
Keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritonium.
4.       Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok Hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik). 

J.      FAKTOR RISIKO / PREDISPOSISI YANG (DIDUGA) BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA ABORTUS.
1.      Usia ibu yang lanjut
2.      Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik
3.      Riwayat infertilitas
4.      Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes, penyakitgh Imunologi sistemik dsb).
5.      berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb)
6.      paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat2an, alkohol, radiasi, dsb).
7.      trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama
8.      kelainan kromosom (trisomi / monosomi)Dari aspek biologi molekular, kelainan kromosom ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan dengan terjadinya abortus.








BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABOTUS

A.     PENGKAJIAN
            Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
1.      Data subjektif
a.        Biodata: mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
b.       Keluhan utama: pada pasien dengan abortus, kemungkinan pasien akan datang dengan keluhan utama perdarahan pervagina disertai dengan keluarnya bekuan darah atau jaringan, rasa nyeri atau kram pada perut. Pasien juga mungkin mengeluhkan terasa ada tekanan pada punggung, mengatakan bahwa hasil test kencing positif hamil, merasa lelah dan lemas serta mengeluh sedih karena kehilangan kehamilannya.
c.         Riwayat kesehatan, yang terdiri atas:
1)      Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2)      Riwayat kesehatan masa lalu
d.       Riwayat pembedahan: Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
e.       Riwayat penyakit yang pernah dialami: Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi , masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
f.        Riwayat kesehatan keluarga: Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
g.      Riwayat kesehatan reproduksi: Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.
h.      Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
i.         Riwayat seksual: Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
j.        Riwayat pemakaian obat: Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
k.      Pola aktivitas sehari-hari: Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
l.         Data psikososia:
1)      Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.
2)      Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
l.        Data spiritual: Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

2.      Data Objektif
a.       Sirkulasi: pada pasien abortus terdapat perdarahan pervaginam yang banyak sehingga dapat menimbulkan syok, pasien tampak pucat, akral dingin, tekanan darah mungkin menurun, nadi teraba cepat dan kecil, pasien tampak meringis atau kesakitan karena nyeri.
b.      Breathing : Kaji pola nafas apakah bernafas spontan/tidak, nafas cepat/lambat. Kaji apakah ada sesak nafas/tidak, gerakan dinding dada simetris/asimetris, pola nafas teratur/tidak, auskultasi bunyi nafas normal/tidak, kaji frekuensi nafas serta penggunaan otot bantu pernafasan.
c.       Circulation : pada pasien abortus terdapat perdarahan pervaginam yang banyak sehingga dapat menimbulkan syok, pasien tampak pucat, akral dingin, tekanan darah mungkin menurun, nadi teraba cepat dan kecil, pasien tampak meringis atau kesakitan karena nyeri
d.      Integritas Ego: Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan, marah atau menarik diri klien/ pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. Mungkin mengekpresikan ketidak mampuan untuk menghadapi suasana baru. Pada pasien abortus kemungkinan terjadi kesadaran menurun, syncope, pasien tampak lemah.
e.       Eliminasi: Kateter urinarius mungkin terpasang : urin jernih pusat, bising usus tidak ada. Makanan/ cairan: Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal.
f.       Neurosensorik: Kerusakan gerakan pada sensori dibawah tindak anestesi spinal epidural.
g.      Nyeri/ kenyamanan: Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber: misal nyeri penyerta, distensi kandung kemih/ abdomen, efek-efek anestesi: mulut mungkin kering.
h.      Keamanan: Jalur parenteral bila digunakan resiko terkena infeksi karena pemasangan infus dan nyeri tekan.
i.        SeksualitasL: Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus.

3.      Pemeriksaan fisik, meliputi:
a.       Inspeksi
Hal yang diinspeksi antara lain:
Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fisik, dan seterusnya.
b.      Palpasi
1)      Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
2)      Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
3)      Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal.
c.       Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
1)      Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan, massa atau konsolidasi.
2)      Menggunakan palu perkusi: ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.
d.      Auskultasi
Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005:39)

4.      Sekunder Assessment
a.       Eksposure: pasien tampak pucat
b.      Five intervention: Tekanan darah menurun, nadi cepat dan kecil, suhu meningkat
c.       Give Comfort: nyeri perut yang hebat, kram atau rasa tertekan pada pelvic
d.      Head to toe: meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan ginekologi, menanyakan riwayat kehamilan, umur kehamilan, riwayat penggunaan kontrasepsi, riwayat pemeriksaan kehamilan (ANC), riwayat penyakit kronis atau akut, riwayat pengobatan serta riwayat alergi.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
2.      Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
3.      Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
4.      Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.
5.      Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan, kondisi vulva lembab.
6.      Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
7.      Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih kehilangan kehamilannya.

C.    INTERVENSI KEPERWATAN
1.      Diagnosa 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan …x… jam tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
Kriteria hasil :
a.       Turgor kulit elastis dan lembab
b.      Mukosa mulut lembab
c.       Nadi 75-80x/mnt
d.      RR 18-20x/mnt
Intevensi :
a.       Kaji kondisi status hemodinamika
b.      Ukur pengeluaran harian
c.       Berikan sejumlah cairan pengganti harian
d.      Evaluasi status hemodinamika
2.      Diagnosa 2 :  Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x.... jam diharapkan syok tidak terjadi.
Kriteria evaluasi:
a.       Kesadaran pasien CM
b.      Tanda vital normal
c.       Syncope tidak terjadi
d.      Perdarahan tidak terjadi
Intervensi :
a.       Observasi Keadaan Umum pasien
b.      Observasi tanda tanda vital
c.       Observasi kesadaran pasien
b.      Observasi tanda-tanda perdarahan, jumlah, warna, adanya stolsel/gumpalan
c.       Kolaborasi:
1)      Kolaborasi dalam pemberian cairan fisiologis.
2)      Kolaborasi dalam pemberian
Rasional :
a.       Dengan mengobservasi KU pasien dapat di ketahui apakah pasien jatuh kedalam keadaan syok atau tidak.
b.      Penurunan tekanan darah atau denyut nadi yang tidak normal mengindikasikan adanya tanda syok.
b.      Dengan mengobservasi kesadaran pasien dapat diketahui apakah pasien mengalami syncope atau tidak.
c.       Dengan mengobservasi tanda-tanda perdarahan dapat dilakukan penanganan segera apabila perdarahan terjadi sehingga terhindar dari syok.
d.      Kolaborasi:
1)      cairan fisiologis berfungsi untuk resusitasi guna mencegah kehilangan cairan lebih banyak lagi
transfuse
2)      untuk mengganti kehilangan darah yang berlebihan akibat perdarahan pervaginam
3.      Diagnosa 3 : Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x.... jam kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi.
Intervensi :
a.       Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas.
b.      Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandung,
c.       Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
d.      Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien.
e.       Evaluasi  perkembangan   kemampuan klien melakukan aktivitas.
Rasional :
a.       Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk.
b.      Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
c.       Mengistiratkan klilen secara optimal.
b.      Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan.
c.       Menilai kondisi umum klien.
4.      Diagnosa 4 : Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x.. jam diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol.
Kriteria evaluasi :
a.       Pasien melaporkan nyeri berkurang.
b.      Pasien tampak rileks.
c.       Tanda vital normal.
Intervensi :
a.       Kaji tingkat nyeri pasien.
b.      Observasi tanda vital.
c.       Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya.
d.      Ajarkan metode distraksi.
e.       Kolaborasi dalam pemberian analgetik.
Rasional :
a.       Tingkat nyeri pasien dapat dikaji menggunakan skala nyeri ataupun deskripsi.
b.      tekanan darah terutama akan meningkat bila pasien merasa nyeri.
c.       Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri.
d.      Menggalihkan perhatian pasien terhadap nyeri.
e.       Analgetik mengurangi nyeri dan membantu pasien merasa rileks.
5.      Diagnosa 5 : Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan, kondisi vulva lembab.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x... jam diharapkan tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan.
Kriteria hasil:
a.       Suhu 37-38 C
b.      Tidak tampak tanda-tanda infeksi
Intervensi :
a.       Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau.
b.      Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan.
c.       Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
d.      Lakukan perawatan vulva.
e.       Terangkan pada klien cara  mengidentifikasi tanda inveksi.
f.       Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama sesama masa perdarahan.
Rasional :
a.       Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi;
b.      Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.
c.       Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart.
d.      Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
e.       Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi.
f.       Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.
6.      Diagosa 6 : Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x...jam diharapkan tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat.
Intervensi :
a.       Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit.
b.      Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.
c.       Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.   
d.      Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.
e.       Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.
Rasional :
a.       Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.
b.      Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit.
c.       Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.
d.      Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.
e.       Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
7.      Diagnosa 7 : Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih kehilangan kehamilannya.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x...jam diharapkan tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a.       Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit.
b.      Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.
c.       Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.  
d.      Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.
e.       Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.

Rasional :
a.       Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.
b.      Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit.
c.       Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.
d.      Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.
e.       Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.

D.    EVALUASI
1.      Perdarahan  berkrang -teratasi
2.      Tidak terjadi syok Gangguan Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
3.      Nyeri berkurang/terkontrol
4.      Tidak terjadi infeksi
5.      Cemas klien berkurang- hilang
















BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Abotus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu hidup di luar rahim (belum viable), dengan kriteria usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan janin kurang 500 gram. Pengkajian meliputi status kesehatan, pemeriksaan fisik sampai dengan pemeriksaan laboratorium. Adapun diagnosa yang muncul pada klien dengan abortus antara lain:
1.      Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
2.      Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
3.      Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
4.      Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.
5.      Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan, kondisi vulva lembab.
6.      Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
7.      Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih kehilangan kehamilannya.