Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu
memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai
cara dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan
makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk
mengekspresikan agama dan keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien
tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus
dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik,
emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Dimensi-dimensi tersebut berada
dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi,
sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya
(Carson, 2002)
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan
spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan
dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan
klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual
manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra
sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir,
dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia
proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai
dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan
instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual
berdasarkan tumbuh-kembang manusia (Carson, 2002)
a) Bayi
dan Toodler
Tahap awal
perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Hamid (2000)
menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk
perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk
mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari
terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi. Oleh karena itu,
perawat dapat menjalin kerjasama dengan orang tua bayi tersebut untuk membantu
pembentukan nilai-nilai spiritual pada bayi.
Dimensi
spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3
tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar
membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang
lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai
berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka
merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari
kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum
makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan
lebih merasa senang jika menerima pengalamanpengalaman baru, termasuk pengalaman
spiritual (Hamid, 2000).
b) Pra
Sekolah
Perkembangan
spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan
kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai
memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan
dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah,
tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga
lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang
mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan
karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan
mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masihkesulitan membedakan Tuhan dan
orang tuanya (Hamid, 2000).
c) Usia
Sekolah
Usia sekolah
merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada
anak. Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka
sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna
spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah
ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang
tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka
(Hamid, 2000).
d) Remaja
(12-18 tahun)
Pada tahap ini
individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan
misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang
dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua
mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung
ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini
kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi
keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga,
walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini
merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan
membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua
dan remaja (Hamid, 2000).
e) Dewasa
muda (18-25 tahun)
Pada tahap ini
individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian
identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang
dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan
mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka
lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka
sudah dewasa (Hamid, 2000).
f) Dewasa
pertengahan (25-38 tahun)
Dewasa
pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar
mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan
moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah
merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap
kepercayaan dan nilai spiritual (Hamid, 2000).
g) Dewasa
akhir (38-65 tahun)
Periode
perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji
kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi
yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini
kebutuhan ritual spiritual meningkat (Hamid, 2000).
h) Lanjut
usia (65 tahun sampai kematian)
Pada tahap perkembangan
ini, pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti
spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor
yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset
membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan
kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan
hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa
takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati
dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap
kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri (Hamid,
2000).
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif
dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual,
walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan
nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap
perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual
yang berbeda (Hamid, 2000).
Bismillah.
BalasHapusIzin Copy